Review Film The Matrix Resurrections (2021)

Review Film The Matrix Resurrections (2021). Review Film The Matrix Resurrections (2021)

Kalian yang suka film sci-fi pasti sudah tidak asing lagi dengan trilogi Matrix, kan? Ya, franchise besutan Wachowskis ini sempat populer di akhir 1990-an dan awal 2000-an. Karena menampilkan film sci-fi dengan konsep yang berbeda. Delapan belas tahun kemudian, franchise ini merilis film keempatnya, The Resurrection Matrix.

Cutscene Matriks Kebangkitan terjadi 20 tahun setelah rilis film ketiga setelah Neo (Keanu Reeves) mengalahkan Agen Smith. Sekarang Neo menjalani kehidupan normal Thomas Anderson dalam program yang mengendalikannya. Kemudian suatu hari, Neo tiba dalam versi baru Morpheus. Morpheus meminta dia untuk kembali ke Matrix untuk melawan musuh baru.

Nah, sebelum Anda melihat The Matrix Resurrection di bioskop, simak ulasan saya berikut ini!

Nostalgia dengan konflik yang lebih fresh

Sutradara Lana Wachowski menjual elemen parfum kepada penggemar setia waralaba melalui Matrix Resurrection. Seperti yang Anda lihat, adegan pembuka film ini sangat mirip dengan awal “The Matrix” (1999), di mana Trinity disergap oleh agen. Anda bisa merasa sangat bernostalgia saat menonton film ini melalui dialog dan aksi dari
karakter. Anda juga dapat melihat beberapa kilas balik dari trilogi Matrix sebelumnya. Either way, film ini akan menjadi nostalgia bagi mereka yang mengikuti The Matrix dari awal.

Namun, film ini tidak hanya membangkitkan nostalgia dengan menampilkan konflik yang sama seperti pada tiga film sebelumnya. Konflik utama dalam film ini begitu baru, meskipun masih berkaitan dengan isu-isu yang ada di trilogi aslinya.
Romansa Neo dan Trinity juga terungkap lebih banyak di film ini daripada di trilogi aslinya. Kebangkitan juga menunjukkan betapa pentingnya hubungan antara Neo dan Trinity dalam Matrix. Bahkan, di film keempat ini, Anda akan bisa mengingat cerita dan tantangan baru.

Perubahan pemain yang cukup disayangkan

Bagian dari pemeran trilogi asli yang kembali ke Resurrection of the Matrix hanya terdiri dari empat aktor. Ini adalah Keanu Reeves, Carrie-Anne Moss, Jada Pinkett Smith dan Lambert Wilson. Mereka mengulangi peran masing-masing Neo, Trinity, Niobe, dan Merovingian. Sebenarnya film ini masih berhubungan dengan karakter lama seperti Morpheus dan Agent Smith, namun kini karakter tersebut diperankan oleh aktor lain.

Dalam film ini, karakter Morpheus adalah Yahya Abdul-Martin II, bukan Lawrence Fishburne seperti di trilogi aslinya. Kalau begitu, peran Agen Smith, musuh Neo, di film ini juga Jonathan Groff, bukan Hugo Weaving.

Padahal, penampilan Abdul-Martin dan Groff cukup menarik karena memberi karakter ‘warna’ baru. Namun, KINCIR menyayangkan pergantian tersebut. Seperti yang Anda lihat, penampilan mereka masih belum se-ikon Fishburne dan Weaving.

juga membawa angin segar ke seri Matrix sekali lagi, dengan banyak karakter baru yang muncul di film tersebut. Secara khusus, ada karakter yang disebut “Analytics” yang menampilkan Neil Patrick Harris. Karakter analis film tersebut berhasil menjelma menjadi penjahat yang terasa berbeda dengan Agent Smith di tiga film sebelumnya.

Efek visual yang lebih canggih dan memukau

Film pertama yang dirilis pada tahun 1999, The Matrix diakui sebagai efek visual yang inovatif di industri film Hollywood. Pasalnya, berkat teknologi yang belum berkembang saat itu, film ini mampu menghadirkan beragam adegan dengan visual yang memukau dan ikonik. Misalnya ketika Neo menghindar atau menghentikan beberapa peluru gerakan lambat.

The Matrix Resurrections membawa Anda kembali ke visual klasik dari franchise fiksi ilmiah ini. Namun kali ini visualnya lebih menakjubkan dari trilogi aslinya. Hal ini tentunya berkat teknologi CGI modern yang semakin canggih, pemandangan visual terlihat lebih halus dan realistis.

Pada saat ulasan film ini ditulis, Matrix Resurrections adalah salah satu nominasi untuk Efek Visual Terbaik di Academy Awards 2022 mendatang. Tentu saja, tidak menutup kemungkinan film ini akan mengikuti jejak The Matrix dan memenangkan Academy Award untuk Efek Visual Terbaik 2022.

Kisah yang masih bisa dieksplor lagi

Final Matrix Resurrection bisa menjadi akhir yang manis untuk seri Matrix. Namun, sebenarnya banyak cerita dan konflik dalam film ini yang layak ditelusuri kembali di proyek lain. Salah satunya adalah kisah tokoh Bugs (Jessica Henwick) yang menarik, namun tercakup dalam kisah tokoh utamanya, Neo.

Dan ending film ini justru membuka kemungkinan kelanjutan dari petualangan dan hubungan Neo dan Trinity di The Matrix. Selain itu, masih banyak misteri seputar Matrix dan peradaban manusia yang belum terpecahkan sejak rilis pertama.

Sayangnya, tidak ada berita dari sutradara atau Warner Bros. pada saat penulisan ini. Sebuah studio yang mengerjakan sekuel Resurrection. Namun, jika episode ke-4 berhasil, ada kemungkinan sekuelnya akan segera diumumkan.

Secara umum, The Matrix Resurrections adalah acara nostalgia bagi penggemar berat seri Matrix, di mana konflik baru masih ada. Jika tertarik, film ini akan tersedia di beberapa bioskop di Indonesia mulai 22 Desember 2022. Oh, dan jangan buru-buru ke bioskop karena ada satu adegan post-credit yang harus kamu lihat.
Matrix Resurrection Review dan penasaran dengan filmnya? Untuk ulasan film lain, berlangganan KINCIR dan bagikan pemikiran Anda. OKE!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*